Senin, 08 April 2013

Children fairy tale Peter Pan ~Story


     One night, Wendy John and Michael, was awakened by a strange sound. They ran to the window and saw the arrival of Peter Pan and Tinkerbell were visiting from Foreign Affairs. Peter Pan tells all about Foreign Affairs and the fabled Lost Boys, Indians, and Pirates.
Peter took them to get there. But, he said, "you must learn to fly first.", He sprinkled magic dust Tinkerbell. After that, they all fly into space toward Foreign Affairs. Eyes evil Captain Hook who is studying to be a pirate look.
      They told his hometown with Wendy, John, and Michael. Children homesick Tinkerbell and Peter Pan asks drove them home. When they came out of hiding, the pirate captured and brought to the ship.
      Tinkerbell flew to meet Peter tells what happened. Arriving, Peter Pan fight against pirates. One by one they jumped into the sea and children were freed.
Once home, Wendy asked Peter Pan live with him. But Peter misses. Therefore, the children look out of the window again when Peter Pan back home and promised to visit again.

THE END

Senin, 31 Desember 2012

Cerpen Belitung ~ Tugas Mading Seni Budaya


          Sore itu Aku dan Siska berencana akan membuat tugas Mading Seni Budaya. Sekitar pukul 15.00, Siska berangkat dari rumahnya ke rumahku dengan mengendarai sepeda motor.
          “Assalamu’alaikum.” ucap Siska sambil melangkah masuk ke dalam Rumahku.
          “Wa’alaikumsalam. Masok be.., sinek dudok”  sahutku sambil merapikan buku-buku yang berserakan di lantai dan mempersilahkan Siska untuk duduk.
          “Kak, kite kan meli ape dulu, untuk Mading Seni Budaya neh?” ucap Siska sambil menatapku itu.
          “Basinglah. Ini, kao catat dulu ape-ape aja yang nak dibeli.”  jawabku sambil menyodorkan sebuah pena dan secarik kertas kepada Siska.
          “Nok ape aja yang kan dicatat neh?” jawab Siska bingung sambil memegang kertas dan pena itu.
          “Kao tulis dulu lah, ape yang nak kao beli.” Kataku yang dari tadi hanya sekilas-sekilas saja melihat kearah Siska.
          “Kao e, lauda ke muat e kak?” tanya Siska yang kelihatannya sudah mulai menulis barang yang Ia perlukan.
          “Kini baru aku muat e, aku nak ngudaek ini dulu agik sikit la kan uda.” jawabku sambil terus mengutak-ngatik tugas TIK.
          Percakapan Kami pun terhenti sejenak, karena kesibukan masing-masing, Siska yang dari tadi terlihat sedang asik mencatat keperluan tugas madingnya dan Aku yang kini sudah mulai mencatat keperluan tugas madingku. Beberapa saat kemudian,
          “Aku lauda Ka.” Sambil mengecek kembali catatan peralatan yang Aku buat.
           “Same. La kan pegi sekarang ke?” ucap Siska.
          “Yo’i, Kite ke Dodo Grafika meli kertas asturo, kertas origami, pita jepang, kan meli spidol warne.” kata Dwinda.
          Jam sudah menunjukkan pukul 15.40. Kami langsung bergegas pergi dari Rumahku menuju tempat yang hendak mereka kunjungi. Sore itu, cuaca sedang tidak kondusif. Tetesan-tetesan air hujan yang lembut terus membasahi jalanan. Meski begitu bukan berarti kegiatan Kami terhenti akibat hujan ini.
          Beberapa saat kemudian. Kami berdua sudah sampai di Dodo Grafika. Disana kami langsung menuju tempat yang sudah tersedia barang-barang yang Kami butuhkan.
          “Kao kan meli kertas asturo warne ape Ka?” Tanyaku kepada Siska.
          “Disama’ek aja warne e, kite patungan bayar e, jadi dak banyak duit keluar.” Jawab siska.
          “iye, Aku juak miker gitu. Tapi, masalah ne kan warne nok ape?” Tanyaku lagi.
          “Ijau muda?” Tanya Siska.
          “Bolehkah” sahutku.
          Sesaat kemudian, setelah Kami mengitari barisan-barisan tempat semua barang dijual, Kami langsung menuju kasir dengan membawa alat-alat yang ingin dibayar.
          “Macam kurang spidol warne, ye ke Ka?” tanyaku yang terlihat sedikit jengkel memperhatikan belanjaan Kami yang kurang lengkap.
          “Bee,, iye. Yuk cari. Nok ini biar ditinggal disinek dulu.” Sambil menunjuk barang-barang yang tadi Kami bawa kekasir dan langsung menarik tanganku untuk mencari spidol warna. Saat sampai di depan tempat yang banyak tersusun spidol warna, Siska bertanya kepadaku.
          “Kak, macam Mahal?, tekenak dengan nok di mije kasir itu jak lah berape.” Ucap Siska kepadaku.
          “Kite minjam aja lah kan Meliani, die kan ade. Kao sms dulu die, jadi kite ke rumah Die ade urang e.” Kataku mengutarakan usul.
          “Benar. Yeh.., tunggu suat aku sms Die.” Kata Siska sambil membuka Handphonenya untuk menghubungi Meliani.
          Kami pun kembali lagi ke tempat kasir. Sampai disitu Siska membayar dengan uang yang telah aku dan siska kumpulkan. Sekeluarnya kami dari tempat itu hujan berhenti, kami langsung memutuskan untuk mengantarkan belanjaannya kerumahku, dan lanjut menuju rumah Meliani.
          Sesampainya Kami dirumah Meliani, ternyata orang yang dicari tidak ada dirumah, kata Ibunya Meliani, Dia sedang Ekskul Seni Lukis di Sekolah. Mendengar itu Kami langsung pergi ke Sekolah untuk meminjam spidol warna miliknya. Setelah semua keperluan terkumpul. Dengan segera Aku dan Siska menuju rumahku untuk merangkai Tugas Mading Seni Budaya, sesuai imajinasi masing-masing.


Amplop Kelulusan ~ Story



Hari Sabtu tanggal 12 Juni 2010 adalah hari yang di tunggu – tunggu karena hari ini adalah hari pengumuman kelulusan, itu artinya tanpa terasa sudah enam tahun aku belajar di SD 9 yang sangat ku cintai ini. Selama enam tahun pula segala suka dan duka ku jalani bersama teman – teman sekelasku terbayang olehku, setelah pengumuman nanti kami semua akan berpisah ke sekolah pilihan masing – masing ada perasaan sedih di hatiku.

Hari ini semua murid kelas 6 berkumpul,  kelas 6A dan kelas 6B semuanya duduk rapi di kursi masing – masing walau masih saja ada yang bercanda seakan tak perduli bahwa setelah hari ini kami semua akan berpisah. Kami berkumpul  di ruang Aula sekolah, ruang terbuka yang ada ditengah – tengah bangunan sekolah yang merupakan tempat pertemuan maupun tempat kami biasanya mengadakan acara – acara sekolah.

Saat ini terasa jantungku berdebar – debar karena aku takut jika nantinya aku tidak  lulus, di sisi hatiku yang lain aku punya keyakinan bahwa aku akan lulus, namun rasa itu tak mengurangi detak jantungku yang semakin kencang. Sesekali aku melihat ke arah teman  - temanku yang lain  ternyata dari wajah – wajah  merekapun aku melihat ada rasa khawatir yang tanpa sadar membuat kami saling saling tertegun dan diam  membisu.

Pengumuman pun tiba dan kami semua langsung  berdiri di depan meja secara bergantian dengan berbaris rapi, tibalah giliran nomorku yang di panggil untuk mengambil amplop. Saat hendak membuka amplop, terasa detak jantungku semakin tak menentu.  Amplop yang ku pegang terasa basah karena tanganku berkeringat dingin,  dan saat amplop kubuka secara perlahan ternyata...........alhamdullillah hirobbil ‘alamin..!!!!!!!!!!  aku dinyatakan lulus.

          Betapa senangnya hatiku, tak sadar aku berteriak sambil melompat kegirangan. Suasana yang tadinya sunyi jadi terdengar hiruk pikuk memenuhi seluruh ruangan, dan senangnya lagi seluruh teman – temanku di kelas 6 A  semuanya dinyatakan lulus, betapa senangnya kami hingga tak sadar kami saling berpelukan dan menangis terharu.



 (Tanjungpandan, 22 Juli 2010)